Menjadi HRD Dadakan

Ok, ini pasti sudah gila! Iya, aku kembali ke dunia blog lagi. Sekitar 2 tahun, aku tidak nulis. Akhirnya aku posting cerita lagi di sini. Aku mau bercerita tentang pekerjaanku saat ini, aku bekerja di bagian creative content dan copywriter di salah satu perusahaan ritel olahraga. Semoga kamu suka ya sama episode yang ini, karena agak dalam banget pembahasannya.

Aku mau bercerita tentang tugasku mencari karyawan baru untuk posisi editor video. Bosku memberi tugas, untuk mencari editor video yang kalau bisa handal di depan kamera, aku pun membuat iklan (poster) lowongan kerja untuk posisi tersebut. Aku promosikanlah iklan lowongan kerja itu ke grup angkatan kuliah di WhatsApp, syukurnya ada yang merespon satu orang, aku nggak bisa sebut namanya karena privasi. Lalu, agak siang sedikit, aku pergi ke kantorku untuk menemui salah satu karyawan dan berbincang mengenai konten yang akan di posting (mirip-mirip meeting) tapi dengan santai banget.


Jujur, ini pertama kalinya aku merekrut orang secara banyak di internet, aku seperti menjadi HRD secara dadakan. Sebelum lanjut ke ceritanya, aku punya saudara kandung yang mantan HRD jadi aku paham betul workflow-nya seperti apa dan saudaraku itu kalau pulang kerja suka diskusi masalah pekerjaannnya kayak misalnya dia nge-interview lulusan ITB di kantor secara daring (online). Dia duduk di kursi meja makan dan duduk bersebelahan bersama Bapakku, dia ngomong dengan nada kaget dan senang "Wah, gila ya anak-anak ITB. Etos kerjanya tuh keren, mereka kalau interview tuh mengesankan", ujar dia dengan riang gembira. Aku yang mendengarnya dari kamar, sampai tau apa saja yang anak-anak ITB di kantor saudara kandungku lakukan.

Berbekal pengetahuan dari saudara kandung dan pernah buka jasa bikin CV (itu juga tau ilmunya dari saudara kandungku), aku pun memantapkan diri untuk menyeleksi setiap calon karyawan yang melamar di kantor yang aku bekerja. Sejujurnya, semua itu bagus-bagus kok dalam portofolionya akan tetapi masih belum ada yang cocok dengan kriteria yang bos aku cari, aku pun teringat omongan dari saudara kandungku yang berkata ...

"Cari orang pintar itu gampang, tapi kalau cari orang yang bisa kerja itu susah"

Pas dulu aku dengar, aku biasa aja dan cenderung acuh. Ketika aku dihadapkan dengan kondisi seperti ini (dalam artian mencari karyawan) ternyata omongan saudara kandungku ada benarnya juga. Portofolionya bagus-bagus, CV para pelamar ya not bad (ada yang bad, sih ...) dan cara mereka berinteraksi denganku juga bagus-bagus. Aku pun menyeleksi hampir dua hari, akhirnya ada beberapa calon kandidat kuat yang aku presentasikan ke bosku biar bisa dilihat secara seksama. Bosku menunjuk satu orang dan si kandidat itu pun di chat via WhatsApp.

Inti dari cerita ini adalah kamu itu harus sabar dalam melamar kerjaan, karena HRD banyak menyeleksi calon pelamar dan itu jumlahnya bisa puluhan bahkan ratusan.

Satu lagi sebelum penutupan, aku mau berterima kasih sama kamu yang mau meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini dan semoga apa yang kamu baca bisa menambah cakrawala baru dalam dunia kerja. TBL. Terima kasih Banyak Lho!

Sampai jumpa di lain waktu :)

-Verdyan


Comments

Popular posts from this blog

If you have a trouble, do this in your life!!

Cara Disukai Banyak Cowok

Hello everybody?